Cerita ini mungkin tidak menarik, aku akan menjaganya sesingkat mungkin tapi maaf jika aku tak bisa melakukannya. Anyway, inilah ceritaku.
Hal pertama yang kalian perlu tahu, bahwa kerasukan atau diikuti oleh sesuatu yang bukan berasal dari dunia ini sama sekali tidak menyenangkan. Berdasarkan pengalamanku, satu atau dua kali upacara pembersihan tidak terlalu membantu. Jadi, bisa dibilang untuk lepas dari cengkeraman makhluk semacam itu sangatlah sulit.
Aku sudah mengalami hal ini sejak lama, dan jujur, banyak orang yang tak bisa diselamatkan.
Ceritaku sendiri dimulai sekitar dua setengah tahun lalu. Harus kukatakan bahwa saat itu tubuhku berfungsi normal. Aku tak punya keanehan fisik, dan dari luar aku tampak biasa saja. Masalahnya adalah, Aku tak tahu kapan semua hal itu akan direnggut dariku. Tak seorangpun tahu.
Kurasa aku harus menceritakannya dari awal. Saat itu aku berumur 23 tahun, dan tahun itu merupakan tahun pertamaku bekerja full-time di sebuah perusahaan. Aku bekerja keras, karena Aku baru saja lulus kuliah dan Aku ingin melakukan semuanya dengan benar. Perusahaan ini bukanlah sebuah perusahaan yang besar,jadi tak banyak pegawai yang sebaya denganku. Dan bisa kalian tebak, para pegawai yang sama-sama berusia muda akan berakhir menjadi teman baik.
Salah satunya adalah seorang pemuda yang berasal dari wilayah timur laut Jepang. Namanya Ogawa, dan dia merupakan orang yang berwawasan cukup luas. Dia memiliki banyak teman dan kenalan. Aku tak tahu mengapa, tapi Ogawa ini ... sedikit aneh. Contohnya saja, terkadang ia akan mengatakan sesuatu seperti "Jika kau melakukan itu maka ini dan ini yang akan terjadi" atau “Dia sedang menuju ke sini .” Orang-orang yang biasanya sering mengatakan hal-hal semacam itu akan dianggap sok tahu, namun lain halnya dengan Ogawa. Entah bagaimana caranya, semua yang Ogawa katakan benar-benar terjadi. Awalnya, aku hanya berpikir itu semua adalah sebuah lelucon.
At the beginning of August, Ogawa and I managed to get a couple of girls to come along with us to a place that was supposed to be haunted. It ended up being pretty creepy. I got chills a few times when we were walking around, and it really felt like something was watching us the entire time we were there. Nothing happened, though, so we ended up all going home after a while.
Fast forward three days. I was at work, and like every other day, I was staying late. It was an unspoken rule that new employees couldn’t leave until all of our seniors had already left. When I finally was able to go home, I was dead tired. I walked inside, locked the door, and took my shoes off. I don’t know why, but as I passed my mirror, I did what you are never supposed to do. It was stupid, I know, and it wasn’t even like I was trying to test it out. It just sort of came to mind, and I had to do it.
Kuputuskan untuk membeli sebuah mobil, dan aku hampir tak punya waktu di rumah. Sebelumnya aku hanyalah pegawai part-time, tapi sekarang gaji yang kuperoleh dari pekerjaanku saat ini jauh lebih besar ketimbang dengan gaji pas-pasan yang biasa kudapat dulu. Dan di akhir pekan, kuhabiskan waktuku dengan berpesta bersama rekan kerjaku.
Awal Agustus, Aku dan Ogawa berhasil mendapatkan dua orang wanita yang menjadi gebetan kami. Kami mengajak mereka ke tempat yang menurut rumor, berhantu. Dan benar saja, tempat itu terasa sangat menyeramkan. Aku merinding saat kita berjalan mengelilingi tempat itu, dan kami merasa ada yang mengawasi kami sepanjang waktu. Namun tak ada terjadi di sana dan kami akhirnya memutuskan untuk pulang.
Tiga hari kemudian, aku sedang bekerja dan seperti hari-hari lain, aku pulang terlambat. Ada sebuah aturan tak tertulis di kantorku bahwa pegawai junior tidak sepantasnya meninggalkan kantor sebelum seluruh pegawai senior pulang. Ketika aku akhirnya bisa pulang, tubuhku sudah sangat teramat lelah. Aku berjalan masuk ke dalam kamar apartemenku, mengunci pintunya, dan melepaskan sepatuku. Aku tak tahu mengapa, namun begitu aku melewati cermin, aku melakukan sesuatu yang seharusnya tidak aku lakukan. Perbuatanku itu sangatlah bodoh, aku tahu itu. Namun hal itu terlintas begitu saja di pikiranku dan saat itu aku merasa perlu untuk melakukannya.
Agar tak membuat kalian bingung, sebaiknya aku menjelaskannya kondisi tempat tinggalku terlebih dulu. Apartemenku berjarak 15 menit dari stasiun kereta api. Kamarku bertipe studio [kamar luas tanpa penyekat] dengan sebuah lorong pendek menuju pintu masuk. Cermin itu berada di akhir lorong tersebut. Aku tak mau membicarakan terlalu banyak detail, namun Ogawa pernah memberitahuku tentang sebuah ritual kecil yang dapat kalian lakukan di depan cermin. Ia berkata, “Jika kamu berdiri di depan sebuah cermin dan membungkuk, kemudian melihat ke arah kanan, maka ‘sesuatu’ akan tampak.”
Aku sama sekali tak mengira sesuatu benar-benar akan terlihat, jadi aku melakukannya. Aku membungkuk di depan cermin lalu menoleh ke kanan. Begitu aku menoleh, aku bisa mengatakan ada sesuatu yang berada tepat di bagian tengah kamar apartemenku. Apapun itu, ia terlihat sangat aneh.
Tingginya tak lebih dari dua meter. Rambutnya panjang dan berantakan, menutupi sebagian besar wajahnya. Kertas-kertas mantera menutupi wajahnya, namun aku tak bisa mengatakan ada berapa banyak. Ketika aku melihat pakaiannya, aku cukup yakin pakaian itu sama seperti yang dipakaikan kepada jenazah pada upacara pemakaman. Selain itu, ia juga bergerak maju mundur, seperti meliukkan tubuhnya, secara berulang kali.
Aku membeku saat itu juga. Aku bahkan tak mampu bersuara. Tubuhku terasa dilumpuhkan oleh rasa takut dan bingung. Otakku mencoba mecari penjelasan logis tentang apa yang sebenarnya terjadi dan apakah makhluk itu sebenarnya. Namun rasanya tak ada penjelasan yang masuk akal tentang apa yang kulihat saat itu.
Aku ingin kalian mencoba memahami apa yang kualami saat itu. Coba tutuplah matamu dan bayangkan kalian berada di sebuah ruangan yang sangat sunyi. Kemudian bayangkan ada sesuatu yang berdiri di sana, mengamatimu. Jelas ritual itulah yang membawa makhluk itu ke sini, namun aku sama sekali tak mengerti apa yang terjadi saat itu. Pikiranku terlalu dipenuhi oleh rasa bingung dan takut. Makhluk itu seperti muncul entah dari mana dan anehnya lagi, kehadirannya serasa membuat udara di sekitarnya menjadi biru. Kamar itu teramat sangat sunyi, sehingga aku merasa seperti waktu telah berhenti.
Aku akhirnya berkesimpulan bahwa aku secepatnya harus pergi dari apartemen ini. Sepatuku masih tergeletak di lantai dan aku segera berusaha menggapainya, sementara mataku tetap terpaku pada makhluk itu. Aku tak tahu mengapa, namun aku merasa jika aku memalingkan wajahku dari makhluk itu, sesuatu yang buruk akan terjadi. Aku berjalan mundur keluar dari kamar. Biasanya hanya butuh 3 langkah untuk berjalan keluar dari cermin itu ke pintu keluar, namun aku berjalan sangat perlahan dan waktu seakan berjalan lebih lambat. Aku masih bisa melihat makhluk itu dari cermin, dan aku melihat bahwa makhluk itu menggerakkan tubuhnya makin cepat, ke depan dan ke belakang. Aku juga mendengar ia mulai mengeluarkan suara, seperti rintihan.
Aku tak begitu ingat apa yang terjadi setelah itu. Yang kutahu, aku sudah berjalan menuju sebuah supermarket dekat stasiun. Aku lega begitu melihat masih ada banyak orang di sana. Namun aku masih tak bisa melepaskan pikiranku terhadap apa yang baru saja terjadi. Sebagian dari diriku merasa marah, sebab rumahku diinvasi oleh sesosok makhluk mengerikan. Sementara sebagian lain dari diriku mencoba tenang untuk mengingat, apakah aku tadi mengunci kamar apartemenku atau tidak.
Aku terlalu takut untuk pulang ke rumah dan memutuskan menghabiskan malam di supermarket itu hingga pagi. Aku pulang ketika fajar telah menyingsing dan melihat kondisi di dalam kamarku. Makhluk itu telah lenyap. Aku kembali pergi keluar, mencoba menenangkan diri dengan meneguk sekaleng kopi dari vending machine. Aku mulai berpikir, apa tadi malam aku benar-benar melihat sesuatu, ataukah itu hanya khayalanku saja setelah lelah bekerja seharian? Hal-hal seperti itu mustahil terjadi kan?
Matahari semakin merangkak naik ke atas ketika aku menghabiskan kopiku. Langit yang terang benderang memberikanku kepercayaan diriku dan akupun masuk kembali ke kamarku. Aku tak melihat apapun sebab tirai jendela kamarku masih tertutup. Namun ketakutanku menjadi nyata. Apa yang terjadi tadi malam bukanlah khayalanku.
Makhluk itu meninggalkan jejak. Tempat dimana makhluk itu tadi malam berdiri tampak sangat kotor, seperti tertutup oleh lumpur yang berbau sangat menyesakkan. Jejak itu telihat seperti bekas kaki. Semua itu membuktikan bahwa makhluk yang kulihat tadi malam benar-benar ada. Aku terhuyung mundur karena rasa takut. Telapak tanganku mulai berkeringat. Aku mulai menekan tombol lampu untuk menerangi ruangan, namun itu hanya membuatku menyadari sesuatu yang tak kalah mengerikan. Terdapat jejak lumpur yang sama di tombol lampu, yang kini mengotori jari tanganku yang tadi kugunakan untuk menekannya.
Untuk sesaat aku merasa putus asa. Namun aku kemudian menyadari, tak ada yang bisa kulakukan sekarang, jadi sebaiknya aku menghadapinya saja. Aku yang membawa “dia” ke sini, jadi ini adalah tanggung jawabku sendiri. Kupikir aku adalah contoh yang baik dari seseorang bergolongan darah AB: aku bisa menjadi orang yang kurang bertanggung jawab, namun aku selalu memiliki cara untuk mengatasi masalah.
Aku mencuci semua kotoran itu dan pergi mandi. Bagaimanapun menakutkan pengalaman tadi malam, tetap saja aku harus bekerja pagi ini. Jadi walaupun aku kurang tidur tadi malam, aku tetap bersiap-siap untuk berangkat kerja. Oya, bau itu ... aku melupakan bau menyengat di kamarku. Aku tetap saja tak bisa menyingkirkan bau memuakkan itu. Namun aku harus segera mengejar waktu untuk berangkat kerja, jadi aku berpikir lebih baik mengatasi masalah itu setelah pulang.
Di kantor, aku berusaha sebaik mungkin untuk melakukan pekerjaanku dengan normal. Namun aku tahu satu hal, aku harus berbicara dengan Ogawa. Ia yang memberitahuku tentang segala proses untuk memanggil arwah itu. Jadi, mungkin ia bisa memberikan sedikit nasehat.
Aku baru bisa berbicara dengannya saat makan siang, namun ia tak bisa memberikan informasi baru kepadaku. Ia hanya mengatakan hal-hal yang sudah kuketahui. Inilah percakapanku dengannya saat itu.
“Hei, kau tahu tentang hal yang pernah kau katakan padaku,” aku duduk di sampingnya, “Ketika kau berdiri di cermin, membungkuk sedikit, dan menoleh, kemudian hal yang menakutkan terjadi dan membuat apartemenmu berbau busuk? Nah, aku melakukannya dan hal itu benar-benar terjadi.”
“Hah? Apa yang kau maksud?” Ogawa bahkan tampak tak memperhatikan apa yang baru saja aku katakan.
“Aku serius! Sesuatu, entah itu roh atau apa, datang setelah aku melakukan apa yang kau katakan.”
“Oh. Oke, kurasa aku tak ingat pernah mengatakannya.” Ia bahkan sama sekali tak menoleh ke arahku dan terus menatap makanannya sambil mengunyah, seolah ia mengatakannya hanya untuk mengusirku.
“Berhentilah bermain-main denganku!” aku memukul meja dengan telapak tanganku. “Ada sesuatu yang sangat menakutkan berdiri di dalam rumahku tadi malam!”
“Aku sama sekali tak tahu apa yang kau katakan!” ia bersikeras, matanya tampak menyipit karena kesal.
“Dan aku juga tak tahu apa yang terjadi!”
Apapun yang kukatakan, tampaknya tidak ada yang membuatnya serius menanggapiku. Aku tahu, jika aku tak bisa membuatnya mempercayaiku, maka aku takkan mampu memperbaiki semua ini. Jadi aku ceritakan semua yang terjadi tadi malam. Ogawa awalnya tak mempercayaiku, namun ketika aku menyelesaikan ceritaku, akhirnya ia mulai menganggap ceritaku serius. Ia setuju untuk datang ke apartemenku sepulang kerja. Kami melanjutkan hari kami di kantor dengan bekerja, seolah tak terjadi apapun. Namun sepanjang hari itu, yang bisa kupikirkan hanyalah pulang dan membereskan semua masalah ini.
Ketika kami sampai di apartemenku, waktu sudah menunjukkan pukul 10 malam. Aku membuka pintu depan, dan kami langsung diserang dengan bau busuk yang kucium tadi pagi. Aku dengan bodohnya meninggalkan rumah dengan jendela tertutup dan dengan suhu ruanganku yang hangat, aroma itu hanya bertambah buruk. Akhirnya, aku berhasil membuat Ogawa percaya kepadaku. Namun yang ia katakan hanyalah,
“Apa-apaan ini?”
Aku menduga ia akan memiliki suatu rencana untuk membantuku, namun nampaknya aku terlalu berharap. Ia hanya mengatakan bahwa aku harus “disucikan” dan ia akan mencari orang yang bisa membantuku. Ia seolah hendak melarikan diri dari tanggung jawab, secara harfiah, ketika ia meninggalkanku sendirian di kamarku. Akupun sendirian kembali. Kini harapanku hanyalah semoga salah satu kenalannya mampu membantu keluar dari semua masalah ini.
Aku sama sekali tak ingin tidur di kamar apartemenku malam ini karena bau ini, jadi aku akhirnya bermalam di sebuah hotel kapsul. Aku tak tahu apakah aku mampu tinggal di sana lagi.
Hari berikutnya, aku memutuskan membolos kerja dan mengunjungi sebuah kuil. Aku mengatakan pada biksu di sana tentang apa yang terjadi denganku, namun tampaknya ia tak mampu menolongku.
“Saya tidak dilatih untuk hal-hal seperti ini.” Ia masih mencoba untuk ramah, “Sudahkah anda berpikir untuk libur sebentar? Mungkin anda hanya mengalami strees dan butuh waktu untuk menenangkan diri.”
Aku pergi ke hampir semua kuil terkenal di penjuru Tokyo, namun apa yang mereka katakan semua hampir sama. Aku akhirnya kelelahan dan siap untuk menyerah. Aku memutuskan untuk pulang ke Saitama, kampung halamanku, yang letaknya tak jauh dari Tokyo. Aku pulang tak hanya untuk bertemu orang tuaku saja. Aku kesana karena aku mengenal seorang biarawati bernama Miss Akagi. Aku tak bisa memikirkan orang lain yang bisa membantuku selain beliau. Aku akan menceritakan tentangnya agar lebih masuk akal bagi kalian.
Ibuku berasal dari Nagasaki, dan begitu pula nenekku. Aku tak tahu, mungkin karena perang atau apa, namun nenekku adalah seorang penganut Buddha yang amat taat. Beliau rajin pergi ke kuil seminggu sekali dan di kuil itulah tinggal Miss Akagi. Beliau di sana bertindak sebagai kepala biara, atau biksuni, atau apapun kalian ingin menyebutnya. Aku hanya pernah bertemu dengan Miss Akagi beberapa kali, namun aku tahu bahwa aku bisa mempercayai beliau. Miss Akagi bahkan cukup terkenal di daerah itu. Walaupun di luar sana mungkin banyak dukun2 palsu dan sebagainya, namun ketika kau melihat seperti apa Miss Akagi, kalian akan tahu bahwa kemampuan beliau adalah sungguhan.
Miss Akagi sangat lembut dan berbicara dengan ramah pada semua orang. Ketika aku masih duduk di bangku SMP, keluargaku memutuskan membeli sebuah tanah dan membangun rumah di atasnya. Aku tak tahu apa nama upacara itu, namun kami memiliki suatu kebiasaan untuk “membersihkan” rumah yang baru saja kami beli atau bangun. Nenekku memanggil Miss Akagi dan beliau sendiri yang memimpin upacara tersebut. Ternyata, menurut beliau banyak hal-hal “buruk” yang berkaitan dengan tanah itu, namun tak ada yang perlu kami khawatirkan setelah upacara itu selesai.
Aku tahu aku bisa bergantung pada beliau. Karena aku menghabiskan hampir seharian berkeliling mencari pendeta di Tokyo, aku baru sampai di kota asalku jam 9 malam. Kota ini sebagian besar terdiri atas bangunan pabrik, jadi tidak seperti Tokyo, tak banyak orang berkeliaran di malam hari seperti ini. Aku berjalan dengan cepat dari pemberhentian bus ke rumah orang tuaku, yang berjarak 20 menit. Jalanan hampir kosong, kecuali untuk beberapa lampu jalanan yang masih menyala. Masih teringat jelas di kepalaku apa yang terjadi tadi malam dan aku tak melihat tanda-tanda dari makhluk yang menghantui kamarku itu. Namun lebih buruk lagi, aku mulai merasakan ada yang aneh dengan diriku.
Walaupun matahari telah terbenam dan suhu udara cukup dingin, aku merasakan bagian belakang leherku sangat panas. Sangat sulit untuk menggambarkan bagaimana rasanya, namun rasanya seperti ada tali yang melingkar dan digesek-gesekkan ke leherku. Aku mulai meraba bagian yang panas itu dengan tanganku. Masih terasa panas. Bulu kudukku mulai berdiri dan aku mulai mencoba merasakan bagian tubuhku yang lain dengan telapak tanganku. Semuanya masih terasa sedikit dingin karena udara malam. Hanya leherku yang terasa panas, sangat panas. Aku juga mulai merasakan sensasi seperti disengat. Aku berhenti berjalan dan mulai berlari ke rumahku.