NoSleepID

Abandon all your sleep.

Reddit Short Scary Stories Compilation Part 1

NoSleepID - Kali ini Saya akan membuat Reddit Short Scary Stories Compilation Bahasa Indonesia. Yang ini adalah bagian pertama, bagian kedua akan menyusul.

The Purple Fireworks




Author: ShadowScribe
Link to the story: The Purple Fireworks

Tommy sedang berlari sambil berteriak menuju kamar ayahnya saat terdengar bunyi ledakan dari luar. Dia langsung naik ke kasur dan berusaha membangunkan ayahnya.

"Ayah! Ayah! Seseorang menembaki rumah kita!" Tommy mulai menangis. "Aku takut, Ayah."

Ayah tommy bangun, lalu berdiri dan kemudian menuntun Tommy menuju ke arah jendela. Dia membuka tirai yang menutupi jendela itu, dan tersembulah kegelapan malam yang menyelimuti kota.

"Lihat kesana, nak." Ayah Tommy menunjuk ke sisi kiri. Di kejauhan, cahaya ungu terang yang menyilaukan mata, meledak di langit malam, menempatkan dirinya berada di antara bintang-bintang sebelum menghilang. "Mereka hanyalah kembang api."

Tommy menggengam tangan ayahnya lebih erat seraya suara ledakan itu terus terdengar. "Ayah, kenapa mereka menembakkan kembang api sekarang?"

"Tiap warna dari kembang api memiliki arti tersendiri, Tommy. Warna ungu digunakan oleh polisi sebagai tanda bahwa mereka telah menemukan pembunuh."

Tommy terpesona dengan keindahan dari kembang api tersebut. Cahayanya membesar dan tampak semakin dekat.

"Aku harap Ibu ada disini agar kita bisa melihat ini semua bersama-sama." gumam Tommy. "Apa ayah pikir Ibu bisa melihat ini dari tempatnya sekarang?"

Ayah Tommy tak menjawab pertanyaan itu.

Tiba-tiba, muncul pergerakan di jalan. Tommy menyadari bahwa ada beberapa bayangan yang berlari lalu bersembunyi di semak-semak, dan di balik pohon. Jantung Tommy berdegup lebih cepat.

Tommy tidak bisa mengeluarkan satu suarapun. Insting Tommy menyuruhnya agar ia tetap diam. Dengan bantuan cahaya dari kembang api, Tommy bisa melihat Ayahnya mengeluarkan air mata.

"Tommy," kata ayahnya. "menjauhlah dari jendela."

Tommy panik, "Apa--apa yang terjadi?" Dia lalu mundur.

Jantungnya terhenti ketika melihat ada titik merah di leher ayahnya.

"Tommy, tutup matamu."

Titik-titik merah mulai bermunculan lagi baik di dada maupun di dahi ayahnya.

"Ayah..."

"Tutup matamu sekarang!" teriak ayah Tommy.

Tommy melakukan seperti perintah ayahnya. Untuk beberapa detik, dunia seakan berhenti. Tommy berpikir semua akan baik-baik saja. Kemudian, ayahnya berbicara untuk yang terakhir kali.

"Tommy, ingatlah.. ini semua hanya kembang api."

A gift from God

Author: Tntmankej
Sumber : A gift from God

Sejak kecil, aku memiliki kemampuan untuk melihat Malaikat Kematian. Wujud dari Malaikat itu tidak seperti yang kalian lihat di film dan televisi. Mereka tak memiliki sayap dan bentuk mereka tidak menyerupai manusia. Yang aku lihat adalah, sebuah bola cahaya.

Saat seorang Malaikat mulai mengikuti seseorang, maka orang itu akan mati dalam waktu dekat dan hal ini tidak akan bisa mereka hindari.

Keluargaku sangat taat dalam beragama. Saat aku memberitahu kepada mereka tentang kemampuan spesialku, mereka hanya menganggapku sebagai anak yang terlalu berimajinasi. Namun pandangan mereka terhadapku berubah ketika orang-orang yang kusebutkan akan mati ternyata benar-benar mati. Mereka lalu menyebut kemampuanku ini sebagai Hadiah dari Tuhan.

Waktu terus berlalu dan banyak orang yang sudah meninggal, doa kami sekeluarga selalu bersama mereka. Aku - dan seluruh keluargaku - menganggap bahwa diriku diberkati oleh Tuhan, sampai suatu hari saat aku melihat dari balik jendela Malaikat-malaikat itu mengikuti setiap orang yang ada.

Will The Real Invader Please Stand Up

Author: JDrift01
Sumber: Will The Real Invader Please Stand Up

Kemarin, alien menginvasi bumi. Mereka datang layaknya hujan meteor yang dengan indahnya menerangi langit malam.  Saat mereka akhirnya mendarat, batu-batu meteor itu terbelah menjadi dua. Dibaliknya, terdapat sesuatu yang mungkin cocok dideskripsikan sebagai cacing. Tubuh mereka sangat kecil, membuat mereka sangat sulit untuk dilihat menggunakan mata telanjang. Mereka dengan cepat menyebar ke seluruh penjuru arah, memulai invasinya.

Hari ini, aku menemukan satu di rumahku. Aku berusaha menangkapnya tapi ia terlalu cepat. Cacing laknat itu menyobek kulit kakiku lalu masuk ke dalam, merangkak di dalam tubuhku hingga pada akhirnya ia sampai di otakku. Pada titik ini, aku merasa kami berdua telah terhubung dan menjadi satu. Hal ini sebenarnya menguntungkanku, karena aku bisa mempelajari segala hal tentang mereka.

Pada dasanya, mereka itu parasit. Mereka akan mendarat di suatu planet, kemudian membunuh setiap makhluk hidup yang ada disana, lalu membuat sebuah kapal lagi agar mereka dapat terus melakukan hal ini. Aku sudah melihat banyak jenis alien. Mereka berjalan dengan lambat, kulit mereka keras dan kasar, mata mereka berair dan tidak bisa fokus.

Tapi di waktu yang sama aku melihat masa lalunya, ia juga bisa melihat masa laluku. Aku sedikit mendengus saat ada sesuatu yang terbakar keluar dari telingaku. Aku yakin api nerakaku cukup untuk membunuhnya, tapi aku akan mengeceknya lagi.

Usaha membunuh alien ini terasa sangat menyenangkan, sampai-sampai ekorku terasa ingin keluar. Kugunakan ekor ini untuk memotong cacing laknat itu kedalam dua bagian. Jujur saja, aku merasa kasihan dengan mereka jauh-jauh datang dengan harapan untuk menguasai Bumi. Tapi sayang mereka tidak tahu bahwa Bumi telah kami ambil alih terlebih dahulu.

Not Like Other Girls

Submitted by professionalsuccubus
Link to the story : Not Like Other Girls

Josh melepas jaket Laura lalu menggantungnya di dekat toilet. "Nah, kita sudah sampai."

"Mau Wine?" tanya Josh diiringi senyum hangatnya.

Laura mengangguk.

Josh berhenti sebentar, kemudian mendekap Laura. "Kamu tahu kan, Laura? Kamu itu berbeda. Kamu tidak seperti wanita-wanita lain yang pernah aku temui." kata Josh dibarengi dengan kecupan di dahi Laura. Setelah itu Josh langsung menuju ke dapur.

Hubungan mereka sudah berjalan kurang lebih 5 bulan. Banyak hal yang terjadi tapi dari tingkah lakunya, Laura yakin jika Josh benar-benar menyayanginya. Hal ini membuat Laura senang. Rasa sayang Josh adalah semua yang ia butuhkan.

Suara alat dapur yang bersahutan dapat terdengar dari arah dapur, diikuti dengan suara “Whoops!” dari Josh.

Laura tersenyum simpul diikuti dengan tawa kecilnya. Laura lalu masuk ke dalam dan menjatuhkan tubuhnya ke atas sofa.

Sambil menunggu Josh menyelesaikan masakannya, Laura mendengar bunyi gemerincing aneh yang datang dari arah toilet. Penasaran dengan bunyi tersebut, Laura memutuskan untuk mengecek bunyi apakah itu.

Sebelum melakukan itu, Laura menengok ke arah dapur untuk mengecek apakah Josh akan segera menyelesaikan masakannya. Tampaknya tidak. "Baiklah. Aku akan mengeceknya." batin Laura. Bunyi itu semakin terdengar.

Dengan perlahan dan hati-hati, Laura melangkahkan kakinya ke arah pintu toilet. Nampak gagang pintunya yang sudah tua itu sedikit berkarat. "Setidaknya butuh kekuatan lebih untuk membuka pintu ini." batin Laura.

Dengan tangan yang sedikit bergetar, Laura mencoba memutar gagang pintu itu. Ia mengerahkan sedikit kekuatannya sampai akhirnya pintu itu terbuka. Untunglah dia berhasil.

Begitu terbuka, Laura disambut oleh bau tidak sedap dan hawa dingin yang dengan mudah membuatnya merinding. Dibalik pintu itu adalah jaket-jaket milik Josh serta beberapa barang/alat yang digunakan untuk toilet. Diselimuti rasa penasaran yang tinggi, Laura menyingkap jaket itu. Dia terkejut setelah melihat apa yang ada di baliknya.

Dibaliknya adalah sebuah tangga yang menuju ke bagian bawah rumah. Ini adalah pertama kalinya Laura tahu bahwa ada jalan rahasia ini di rumah Josh.

Bunyi gemerincing itu semakin jelas terdengar.

Laura kembali menengok kebelakang dengan rasa was-was. Begitu dia memastikan bahwa Josh masih berada di dapur, dia langsung menghidupkan saklar lampu yang ia temukan tadi, lalu turun ke bawah menggunakan tangga itu.

Bunyi itu semakin terdengar semakin dekat.

Laura terlihat ketakutan dengan apa yang ia lihat.

4 orang wanita, dirantai di tembok. Darah kering terlihat membekas di pergelangan tangan dan kaki mereka. 3 orang nampak tak sadarkan diri (harapnya) dan ada satu yang sadar. Namun ia terlihat sangat lemah. Tangan lemahnya lah yang membuat bunyi gemerincing yang Laura dengar.

Sebelum Laura sempat bertindak, terdengar suara Josh dari belakang.

"Seperti yang aku katakan tadi, Laura, kamu berbeda dari cewek-cewek lain." kata Josh. "Tidak ada dari mereka yang sebodoh—”

Sikutan Laura mendarat tepat di wajah Josh sebelum ia mampu menyelesaikan kata-katanya. Sikutan itu mampu membuatnya mundur sampai kebelakang. Laura tak tinggal diam, dia harus melancarkan serangan lagi. Kali ini ia mengambil sebuah fire iron , lalu menusukannya ke tubuh Josh.

Laura berdiri di samping tubuh Josh yang sudah tak bernyawa.

"Menjijikkan." batin Laura sambil menatap mayat Josh.

"5 bulan sudah aku berpura-pura menyayangi orang gila ini. Aku juga harus menyembunyikan rencana asliku hanya untuk bisa sampai di ruangan ini." lanjutnya sambil menahan emosi.

Dia berlari menuju ke arah wanita yang masih sadar itu. Berusaha melepas jeratan rantai yang mengikat tubuhnya. Masih dalam posisi berlutut, Laura memeluk tubuh lemah wanita itu.

"Sekarang kamu sudah aman, kak." bisik Laura dengan lembut. "Aku disini bersamamu."

He is not my son


submitted by Chanzy94

My son went missing two weeks ago.

Like a good parent, I filed a police complaint. I participated in the search efforts and I was heartbroken when they could not find any trace of him.

I gave up. I asked the cops to give up too. It was hopeless, I said.

They did not give up.

One week ago, two of the officers turned up at my door. Triumphant smiles on their faces. And standing in front of them, was my son. They said they found him wandering in the woods beyond the edge of town.

He looked much worse for the wear, but otherwise unscathed.

They left him with me and went back to the station.

He is not my son!

He looked like my son, spoke like my son, and even behaved like my son. He settled in with me. But please, believe me, he's not my son!

Every night since that day, I've woken up in the middle of the night in cold sweat. I always see him in the doorway of my room. His body silhouetted by the night light behind him. He always leaves as soon as I wake up.

Please, you have to trust me. Whatever he is, he is not my son!

Why do I seem so sure?

Because I killed my son two weeks ago. And buried him in the forest.