Aku sudah menerima banyak panggilan untuk mencari orang hilang. Panggilan lain yang sering kuterima adalah panggilan untuk menyelamatkan seseorang. Orang yang jatuh dari tebing, orang yang terluka saat bermain api (ini sangat sering terjadi, kebanyakan dari mereka adalah anak-anak yang mabuk), dan yang terakhir adalah orang yang terluka karena gigitan hewan atau serangga.
Timku diisi oleh orang-orang yang berpengalaman. Kami dengan mudahnya menemukan jejak orang hilang karena sebagian besar personel kami diisi oleh para veteran. Karenanya, kami sangat frustasi jika ada kasus dimana kami tak bisa menemukan satupun jejak dari orang yang kami cari.
Ada satu jenis pencarian yang membuat kami semua geram. Yaitu disaat kami berhasil menemukan jejak dari mereka, tapi bukannya mendapat jawaban, kami malah mendapat lebih banyak pertanyaan.
***
Seorang pria paruh baya mendaki seorang diri. Istrinya menghubungi kami dan berkata bahwa si suami tak kunjung pulang. Tampaknya pria tersebut memiliki riwayat penyakit, dan sang istri khawatir karena suaminya tak meminum obat sebelum mendaki. Bagaimana jika pria itu kesakitan karena penyakitnya kambuh?
Aku tak mengerti alasan dibalik mengapa pria itu mendaki seorang diri, dan mengapa istrinya tak ikut naik. Aku tak menanyakannya, karena menurutku hal itu tidak terlalu penting. Yang penting adalah, fakta bahwa pria itu telah hilang. Dan tugas kami sebagai Tim SAR adalah berusaha menemukannya.
Kami mencari menggunakan formasi standar. Dan tidak butuh waktu lama, Tim kami berhasil menemukan jejaknya. Ternyata pria tersebut keluar dari jalur pendakian. Kami berpencar sambil mengikuti jejak tersebut. Berusaha agak tidak ada area yang terlewati dari usaha pencarian kami.
Tiba-tiba, melalui radio, ketua menyuruh kami berhenti berpencar. Kami langsung menuju ke lokasi yang diberitahukan. Biasanya, jika ketua memanggil kami seperti ini, besar kemungkinan bahwa orang yang sedang dicari mengalami luka dan kami harus mengerahkan seluruh personel untuk membawanya keluar dengan selamat.
Kami semua sudah sampai di lokasi. Tapi ketua tampak seperti orang bingung. Dia hanya berdiri disana sambil menggaruk-garuk kepalanya.
Aku bertanya kepada temanku tentang apa yang sedang terjadi. Dia tak menjawab pertanyaanku. Dia malah menunjuk ke dahan pohon yang berada di atas sana.
Aku hampir tak percaya dengan apa yang kulihat. Disana terdapat walking stick tergantung di atas dahan yang tingginya mencapai 30 kaki atau 9 meter. Sangat tidak mungkin bagi pria itu untuk melempar tongkatnya setinggi ini. Kami mencoba untuk mencari pria itu di sekitar area ini. Tapi kami tak menemukan satupun jejak darinya.
Kami dibuat bingung. Kami terus berusaha mencari tapi tak ada satupun petunjuk yang bisa kami dapatkan. Anjing pelacak kamipun tak terlalu berguna. Pencarian pun terpaksa kami akhiri, karena kami mendapat panggilan lain. Lagipula tidak banyak hal yang bisa kami lakukan dengan kasus ini.
Setiap bulan,Istri dari pria tersebut menelepon kami menanyakan apakah kami berhasil menemukan suaminya. Dan sangat memilukan mendengarnya semakin lama semakin tak berdaya.
Yang jadi pertanyaan adalah, bagaimana caranya tongkat pria itu bisa berakhir di atas sana? Apa mungkin dia dibunuh seseorang, lalu tongkat itu ditaruh disana sebagai bukti kemenangan?
Pertanyaan-pertanyaan itu tetap tak terjawab. Yang penting, kami sudah melakukan yang terbaik untuk menemukannya.
Timku diisi oleh orang-orang yang berpengalaman. Kami dengan mudahnya menemukan jejak orang hilang karena sebagian besar personel kami diisi oleh para veteran. Karenanya, kami sangat frustasi jika ada kasus dimana kami tak bisa menemukan satupun jejak dari orang yang kami cari.
Ada satu jenis pencarian yang membuat kami semua geram. Yaitu disaat kami berhasil menemukan jejak dari mereka, tapi bukannya mendapat jawaban, kami malah mendapat lebih banyak pertanyaan.
Seorang pria paruh baya mendaki seorang diri. Istrinya menghubungi kami dan berkata bahwa si suami tak kunjung pulang. Tampaknya pria tersebut memiliki riwayat penyakit, dan sang istri khawatir karena suaminya tak meminum obat sebelum mendaki. Bagaimana jika pria itu kesakitan karena penyakitnya kambuh?
Aku tak mengerti alasan dibalik mengapa pria itu mendaki seorang diri, dan mengapa istrinya tak ikut naik. Aku tak menanyakannya, karena menurutku hal itu tidak terlalu penting. Yang penting adalah, fakta bahwa pria itu telah hilang. Dan tugas kami sebagai Tim SAR adalah berusaha menemukannya.
Kami mencari menggunakan formasi standar. Dan tidak butuh waktu lama, Tim kami berhasil menemukan jejaknya. Ternyata pria tersebut keluar dari jalur pendakian. Kami berpencar sambil mengikuti jejak tersebut. Berusaha agak tidak ada area yang terlewati dari usaha pencarian kami.
Tiba-tiba, melalui radio, ketua menyuruh kami berhenti berpencar. Kami langsung menuju ke lokasi yang diberitahukan. Biasanya, jika ketua memanggil kami seperti ini, besar kemungkinan bahwa orang yang sedang dicari mengalami luka dan kami harus mengerahkan seluruh personel untuk membawanya keluar dengan selamat.
Kami semua sudah sampai di lokasi. Tapi ketua tampak seperti orang bingung. Dia hanya berdiri disana sambil menggaruk-garuk kepalanya.
Aku bertanya kepada temanku tentang apa yang sedang terjadi. Dia tak menjawab pertanyaanku. Dia malah menunjuk ke dahan pohon yang berada di atas sana.
Aku hampir tak percaya dengan apa yang kulihat. Disana terdapat walking stick tergantung di atas dahan yang tingginya mencapai 30 kaki atau 9 meter. Sangat tidak mungkin bagi pria itu untuk melempar tongkatnya setinggi ini. Kami mencoba untuk mencari pria itu di sekitar area ini. Tapi kami tak menemukan satupun jejak darinya.
| Walking stick yang biasa dipakai mendaki. Photo by fittershopping.co.uk |
Kami dibuat bingung. Kami terus berusaha mencari tapi tak ada satupun petunjuk yang bisa kami dapatkan. Anjing pelacak kamipun tak terlalu berguna. Pencarian pun terpaksa kami akhiri, karena kami mendapat panggilan lain. Lagipula tidak banyak hal yang bisa kami lakukan dengan kasus ini.
Setiap bulan,Istri dari pria tersebut menelepon kami menanyakan apakah kami berhasil menemukan suaminya. Dan sangat memilukan mendengarnya semakin lama semakin tak berdaya.
Yang jadi pertanyaan adalah, bagaimana caranya tongkat pria itu bisa berakhir di atas sana? Apa mungkin dia dibunuh seseorang, lalu tongkat itu ditaruh disana sebagai bukti kemenangan?
Pertanyaan-pertanyaan itu tetap tak terjawab. Yang penting, kami sudah melakukan yang terbaik untuk menemukannya.