NoSleepID

Abandon all your sleep.

Istriku Membawa Anakku Pergi, Kulakukan Ritual Berbahaya Ini Untuk Menemukannya




Apakah kau pernah dibutakan oleh rasa sakit sehingga kau melakukan hal-hal gila di luar nalar? Apakah kau pernah melakukan pengorbanan yang begitu besar, untuk meraih sesuatu,hanya karena sudah tidak ada jalan lain?

Aku pernah.

Penyesalan terbesar ketiga sepanjang hidupku adalah, di usiaku yang baru menginjak 23 tahun, aku terburu-buru menikah dengan seorang wanita yang baru aku kenal selama 8 bulan.Dia adalah seorang wanita yang mampu menyembunyikan ketidakstabilan emosinya dengan baik. Pernikahan ini terjadi setelah ia mengejutkanku dengan berkata bahwa dia telah hamil. Aku sangat senang mendengarnya,ini merupakan kabar baik bagiku yang sangat ingin menjadi seorang Ayah.

Penyesalan terbesar keduaku sepanjang hidupku adalah Aku membiarkan Kayla,istriku,tahu bahwa aku akan meninggalkannya sebelum aku memiliki pengacara dan mengunci aksesnya ke rekeningku. Namun yang terjadi adalah, dia berhasil mengambil setengah dari total uangku di bank dan menghilang bersama anakku, Hunter,  satu setengah tahun yang lalu.

Aku tak terlalu peduli dengan uang yang ia ambil atau mobilku yang ia bawa pergi, Aku hanya ingin anakku bisa kembali dengan selamat.

Aku mencoba segala yang kubisa dengan meminta bantuan dari polisi,media sosial, keluarga Kayla, dan bahkan detektif pribadi.

Aku berhenti bersenang-senang bersama rekan kerjaku, aku tak punya waktu untuk itu semua, jika aku ada waktu Aku akan lebih memilih untuk mencari keberadaan Hunter.

Setelah berbulan-bulan pencarian, Aku tak memiliki kegiatan lain selain bekerja. Akupun masih belum memiliki petunjuk tentang keberadaan anakku. Ada kalanya Aku membolos bekerja hanya untuk berkendara dari kota ke kota untuk mencari Hunter, tapi Aku sudah tak kuat lagi. Aku mulai kehabisan uang dan aku tak ingin menjadi pengangguran. Di titik ini, teman-temanku mulai menyerah untuk membantuku. Aku bahkan mendengar mereka membicarakanku di ruang istirahat. "Max sudah seperti kerasukan." kata seseorang. "Dia lebih baik menyerah dan menerima fakta bahwa anaknya sudah hilang." "Ya, aku setuju denganmu."

Mereka tak mengerti. Tak seorangpun mengerti. Mereka berkata bahwa Aku harus merelakannya, tapi Aku tak bisa. Rasa cintaku ke Hunter terlalu besar.

Aku berada di titik dimana aku merasa sangat kesepian dan depresi, lalu aku menemukan sesuatu yang unik di internet. Sebuah forum bernama Deserted Dads, tempat dimana banyak orang yang bernasib sama denganku.

Dan di tempat inilah Aku menemukan sebuah ritual berbahaya, ritualnya disebut dengan 'The Letter Ritual'

Penyesalan terbesar sepanjang hidupku adalah melakukan ritual itu.

Tak lama setelah menemukannya,Aku berteman dengan orang yang menulis tentang ritual itu,George. Umur anak kami sama-sama 8 tahun. Kami juga sama-sama menyukai Whiskey. Karena banyak kemiripan, aku dan George sering bertukar chat tiap hari, dan kami berakhir menjadi teman dekat.

Mantan Istri George pergi membawa anaknya, Brad, hampir tiga tahun yang lalu. Yang berarti dia sudah lebih lama menderita daripada aku. Daripada teman, aku lebih menganggapnya sebagai mentor. He had already exhausted all hopes and all of his finances, and he had almost entered a place of acceptance.

Karena itulah, aku tidak terkejut saat melihat George berhenti login. Aku bahkan ikut senang untuknya. Setidaknya dia sudah move on dan tidak butuh forum menyedihkan ini  untuk menjaganya agar tetap waras.

Atau setidaknya, itulah yang kupikirkan.

Kebetulan aku sedang me-refresh homepage forum ini,dan tiba-tiba kulihat ada sebuah post baru yang ditulis oleh George. Beberapa minggu telah berlalu sejak dia terakhir login, dan tiba-tiba saja dia muncul. Ada sesuatu yang membuat jantungku berhenti, dan hal itu adalah...

Judul post yang ditulis olehnya.

“Aku akhirnya menemukan anakku, Brad - begini caranya - Good luck.”

Dengan tubuh yang bergetar,kucoba membuka post milik George. Kuteguk segelas Whiskey sembari menunggu loading dari browserku selesai. Judul postnya terasa seperti dia baru saja menemukan sebuah keajaiban - mungkin karena detektif pribadi yang handal, atau strategi bodoh yang membantunya menemukan Brad - namun aku salah, ternyata isinya adalah paranormal ritual. Dan ritual yang George gunakan adalah The Letter Ritual.

Setelah melakukan sedikit 'investigasi' tentang hal ini, aku menyadari bahwa paranormal ritual adalah semacam creepypasta. Aku tidak menemukan apapun tentang The Letter Ritual di internet, dan George tidak mau memberitahuku darimana dia mengetahuinya. Dia tak mengatakan apapun.Tapi dia menulis instruksi cara melakukannya.

Setelah membacanya beberapa kali, kuputuskan untuk mencetaknya. Untung saja aku melakukan hal ini karena begitu merefresh halamannya, post milik George sudah dihapus.

Aku akan menuliskan ritual ini sama persis seperti yang ditulis oleh George. Kuharap kalian tidak melakukan ritual ini, karena kalian akan berurusan dengan hal-hal spiritual yang bisa saja membahayakan nyawa kalian.

Dan inilah ritualnya:

The Letter Ritual


Ritual ini hanya untuk mereka yang sedang mencari seseorang.

Orang yang dicari haruslah orang yang mereka sayang.

Jika dilakukan dengan benar, maka orang yang dicari dapat ditemukan dengan selamat.

Jika ritualnya gagal, konsekuensinya tidak diketahui, namun semua setuju bahwa orang yang dicari akan sangat menderita, termasuk kehilangan orang yang paling mereka cintai dengan kematian yang mengerikan.

Dirumorkan bahwa orang yang melakukan ritual ini akan mengalami ketidakberuntungan. Lakukan ritual ini jika kalian siap menanggung resikonya.


Tahap pertama: tulis surat pertama.

  1. Tuliskan di selembar kertas “Aku ingin menemukan [nama orang yang dicari].” Teteskan darahmu ke permukaan kertas. Setelah darahnya mengering, masukkan kertas itu ke dalam amplop putih.
  2. Tuliskan di amplop alamat tempat terakhir kamu melihatnya. Jika kamu benar-benar menyayangi orang tersebut, mengingatnya bukanlah hal yang sulit. Kamu tidak perlu menempelkan perangko ataupun menulis alamat pengirim (alamatmu).
  3. Masukkan suratnya antara jam 12 malam sampai jam 3 pagi ke kotak surat manapun, yang penting tidak kelihatan jika dilihat dari pintu depan rumahmu. Kamu harus ingat waktu tepatmu memasukkan surat. Jangan sampai lupa.
  4. Tunggulah selama 7 hari.

Tahap kedua : menerima respon.

  1. Tujuh hari setelahnya, salah satu dari tiga hal ini yang akan terjadi:
  • Surat yang kamu tulis akan dikembalikan ke kotak suratmu. Bakar suratnya. Jangan lanjutkan dan jangan pernah lakukan ritual ini lagi. Jangan berada di rumah, pergilah, dan kembali esok hari. - Mereka tahu tempat tinggalmu dan mereka mengembalikan suratmu secara pribadi- Jangan membuat mereka lebih marah.
  • Kamu menerima surat berbeda yang dialamatkan kepadamu. Surat itu tidak memiliki perangko dan alamat pengirim. Kamu boleh melanjutkan ke tahap ketiga.
  • Kamu tidak menerima surat apapun. Ini tandanya mereka tidak ingin kamu mencari orang itu. Jangan mengirim surat yang bertujuan untuk mencari orang yang sama. Namun, kamu bebas melakukan ritual ini untuk mencari orang yang berbeda.  
  • *Catatan, pastikan kamu sudah menunggu tepat 7 hari atau 168 jam,sebelum kamu yakin bahwa tidak ada surat jawaban untukmu. Jika kamu mengirim surat lagi ke mereka sebelum 7 hari tepat, maka kamu dan orang yang kamu cari akan berada dalam bahaya.

Tahap ketiga: Ritual

  1. Jangan buka amplopnya sebelum 7 hari atau 168 jam tepat setelah kamu mengirim surat itu. *Catatan: sebelum kamu membuka amplopnya, ini adalah kesempatan terakhirmu untuk membatalkan ritual ini. Caranya dengan tidak membuka amplop itu lalu membakarnya. Jika kamu membatalkannya, jangan pernah lakukan ritual ini lagi. Dan jika kamu membuka amplop itu, maka kamu harus menyelesaikan ritual tersebut.
  2. Setelah 7 hari, pergilah menuju ruangan gelap tanpa jendela (jika berjendela, tutup jendela itu, jangan biarkan cahaya apapun masuk). Bawa amplop itu, lilin,  korek api, tape, dan sebuah cermin.Satu-satunya sumber cahayamu adalah cahaya lilin.

    Duduklah di depan cermin. Buka amplopnya. Akan ada dua pilihan:
    • Sebuah surat yang bertuliskan "Kami berharap kamu menemukan apa yang kamu cari." Ini merupakan pertanda bagus dan kamu bisa melanjutkan ke nomor tiga-
    • Sebuah surat yang isinya bukan kalimat seperti diatas, atau bisa juga sebuah kertas kosong. Langsung masukkan surat itu kembali ke amplop dan segel amplopnya menggunakan tape. Matikan lilin dan masukkan surat itu ke dalam kotak surat tempatmu mengirim surat ini pertama kali. Jangan pulang sebelum besok. Dan berdoalah.*Catatan,ritualnya telah selesai tapi kamu tidak gagal.Untuk berjaga-jaga supaya tidak mengalami hal yang tak diinginkan, pergilah dari rumah.
  3. Masukkan surat ke dalam amplop lalu bakarlah menggunakan api dari lilin. Selama amplopnya terbakar,katakan kepada refleksimu di cermin, "Aku ingin menemukan [nama orang yang dicari]" tujuh kali. Jangan padamkan apinya dan jangan jatuhkan amplop itu sebelum kamu selesai mengucapkannya tujuh kali.
  4. Padamkan api yang membakar amplop itu.
  5. Jangan alihkan pandanganmu dari cermin.Lama-kelamaan, bayanganmu akan berubah menjadi sesuatu yang mungkin tidak kamu kenali. Apapun yang terjadi, jangan alihkan pandanganmu!
  6. Hal selanjutnya yang terjadi adalah kamu akan mendengar suara-suara. Suara itu akan memberimu pertanyaan. Kamu harus menjawabnya dengan jujur, jika kamu berbohong, ritual dianggap gagal.
  7. Ketika suara itu akan mengakhiri pembicaraan,akan ada dua pilihan yang suara itu katakan:
    • "Kami berharap kamu menemukan apa yang kamu cari" Jika mereka mengatakan ini meskipun kamu menggagalkan ritualnya, kamu tetap harus melanjutkan ke nomor 8 dan tahap ke-empat.
    • “Berhenti mencari.”. Mereka menganggap kamu tidak pantas mencari orang yang kamu ingin temukan. Tiup lilinnya sampai mati. Pergi dari rumah dan jangan coba lakukan ritual ini lagi.
  8. Tiup lilinnya sampai mati, tinggalkan ruangan itu dan kunci pintunya. Jangan masuki ruangan itu sampai besok. Lanjut ke tahap ke-empat.

Tahap ke-empat: tulis surat kedua. 

Di surat kedua ini, sampaikan rasa terima kasihmu dan tulis ulang nama orang yang kau cari. Teteskan darahmu di suratnya. Kirimkan surat ini seperti caramu mengirim surat pertama.
  1. Send the letter 24 hours after you opened their response (which is also the same time you sent the first letter, eight days later).

Tahap akhir: menerima respon kedua

  1. Within seven days (168 hours), you should receive a response. If you do not receive a response, that means that you had failed the ritual and you will not get what you are searching for. Prepare for the consequences.
  2. The response will be addressed to you and there will be no stamp. The return address will be the address where you can find the person you seek. Generally, it is a home address, but it can be a school, work place, place the person frequents, or anywhere that you can find the person.
  3. Feel free to open the envelope at any time – you are now in their good graces and you have completed the ritual. There may or may not be a letter inside that would give you more specifics on how to find the person you are looking for, like a date or a time. If you wish to find the person you search for, it is best to consider what is in the letter.
  4. It’s advised to burn the final envelope and letter, but it’s unclear whether it is necessary.
If you aborted this ritual any time after opening the first letter, you have failed the ritual and the person you seek will suffer the consequences. If you missed any steps/did them wrong at all, then you failed the ritual and the person you seek will suffer the consequences. Of course, it is advised that you do not attempt this ritual. Good luck.”

Harus kukatakan, aku tak mempercayai satupun omong kosong itu. Aku menjadi Atheist sejak umurku 13 tahun. Aku tak pernah takut dengan yang namanya hantu, aku juga tak percaya dengan surga ataupun neraka.

Namun terkadang, depresi bisa membuat keyakinanmu goyah, alkohol membuatmu
However, sometimes desperation can shake your most core beliefs, alcohol can lower your inhibitions, and love can make you take any chances. For about a month after I printed out The Letter Ritual, I would think about it from time to time, read it and sometimes wonder what it would be like to actually do the ritual, if it was actually true. It didn’t seem all that impossible - as long as I could remember all of the steps, then I could probably complete it just fine, I figured. I mean, why not send a letter? Why not just give it a try, get it out of my head when I receive no response, no more ‘what ifs’?

The one thing that always held me back was the thought of it actually being true, and me failing it, and leaving my son to suffer. If the consequences just meant that I would suffer, then it would have been a lot easier to move forward with - I wasn’t sure how I could suffer more.

However, one night, I stumbled upon one of my favorite photographs of Hunter while cleaning - it was him, at his eighth birthday party. He was holding the lego set that I had bought him, wearing one of those birthday cone hats decorated with dinosaurs on top of his head.

“Thank you, daddy!” he said. “I love you more than anyone in the world!”

“Hey, now,” Kayla snapped. “Don’t you love mommy just as much?”

“Nope!” Hunter said. Kayla’s face was pained, and my heart was bursting - and my mind was reeling, because I had already decided to leave Kayla by this point, and maybe if Hunter’s love was this obvious during court then custody would come easily. “Daddy is my favorite!”

“You’re just saying that because he bought you a new toy,” Kayla said bitterly.

But he wasn’t. Thinking back over the first eight years of Hunter’s life, there were many instances where he favored me: he would choose my hand over Kayla’s when crossing the street; he would choose to accompany me on errands instead of stay home; he would cry whenever I left on a business trip, yet never cry when Kayla took mini-vacations to visit her friends and family; he would listen to me when I punished him, and never Kayla.

Example after example rushed through my head.

“Goddamnit!” I shouted into the dark nothingness of my lonely apartment, the one I moved into when I stopped being able to afford the mortgage on our old house.

Hunter should have been with me, right in that small apartment, sleeping in the spare bedroom that I decorated with his old things from the house, in case he would ever come back to me. Hunter should have been with me, the parent who loved him and was good to him, not the one who was moody and irrational and emotionally unstable and cruel.

He loved me most, and if failing the ritual meant I would die, then what difference did it make? As far as he knew, thanks to Kayla, I was already dead.

I grabbed a piece of white paper and scrawled in large letters, “I wish to find Hunter Raines.” I pricked the end of my thumb with the point of the pencil and smeared the blood all over the page. I waited for it to dry, then I folded it and stuffed it into an envelope, addressed it to Hunter at our old house, the last place I had seen him, and then I headed for the front door.

It was already after midnight, so I just walked and walked, a little too drunk to walk a straight line, I stumbled down block after block and until I was a mile away from my home outside of the local grocery store and I mailed the letter. I opened the metal slot, checked my watch (it was 1:14 am) and dropped the letter in.

Then I walked home and passed out.

For the next few days, I hardly thought about the letter at all. It was something I spontaneously did when I was drunk, and so the memory only stuck around like one of those fuzzy events you’re not sure if they’re a dream or an old reality. Plus, I didn’t believe it would ever work; but at least I could know I tried it, and move on from it.

For three days I pretty much forgot about the letter. Until I found a response in my mailbox.